Senin, 14 Februari 2011

Valentine Hari Kasih Sayang Ala Barat       PDF       Cetak       Email Oleh : Yos Arnold Tarigan, SH  Proses globalisasi berhasil menyihir bulan Februari, Valentine’s Day yang merupakan hari kasih sayang ala barat berhasil kita adopsi dari budaya ‘asing’.  Pada bulan Februari perubahan tampak terasa sangat mencolok di berbagai pusat perbelanjaan, warna pink dan merah mewarnai setiap sudut pusat perbelanjaan tersebut dan setiap stasiun televisi pun ikut-ikutan menayangkan iklan berbagai produk yang mengusung tema Valentine.  Tema yang diusung pada tanggal 14 Februari tesebut adalah tentang kasih sayang, dimana hari tersebut bagi sebahagian kalangan terasa sangat berarti, baik setiap muda-mudi ataupun yang sudah tua, kasih sayang merupakan inti dari adanya perayaan valentine tersebut. Penyaluran kasih sayang antara dua insan merupakan iming-iming yang sering kali dikatakan oleh para muda-mudi yang apabila kita bertanya kepadanya.  Beragam tingkah dilakukan pada tanggal 14 Februari oleh sekelompok kecil orang untuk menunjukkan kasih sayang pada orang terdekat seperti sang kekasih. Antara teman saling bertukar cindera mata atau membagi kado kasih sayang yang diekspresikan dengan bahasa cinta yang romantis, melalui kartu ucapan atau lewat SMS di ponsel, atau merayakannya secara bersama-sama sambil menikmati makan kesukaan.  Jika ditanya kepada kaum muda tentang sejarah peringatan hari Valentine maka mungkin ada sebagian kecil saja yang dapat memberikan jawaban yang tepat sedangkan sebagian besarnya tak dapat menjelaskannya sebab bagi kaum muda tidaklah penting untuk memahami secara detail tentang siapa pencetusnya, serta sejarah perkembangannya selain dari maknanya yang mereka pahami sebagai hari kasih sayang.  Barangkali Valentine dapat diekspresikan sebagai wahana penyadaran diri akan pentingnya kasih sayang sesama manusia, motivasi semacam ini ada pentingnya apalagi disaat bangsa ini sedang dilanda ketidaknyamanan dari segi ekonomi karena harga-harga kebutuhan pokok naik melambung dan nuansa saling amburadul makin nampak setelah politisi membius rakyatnya untuk memilih dalam ajang pilkada sumut yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan tepatnya pada tanggal 16 april 2008.  Lahirnya Hari Valentine di Dunia Barat  Di dunia barat hari Valentine (Valentine’s Day) yang jatuh pada 14 Februari merupakan sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus.  Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir abad pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan. Valentine pada saat ini diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap.  Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan.  Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.  Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.  Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828-1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".  Valentine di Dunia Asia  Di Jepang, Hari Valentine muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor.  Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut "Hari Putih"(White Day) muncul pada 14 Maret dimana pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.  Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.  Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka. Pertokoan dan media (stasium TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.  Valentine Hasil dari Globalisasi  Hari Valentine dapat kita simpulkan sebenarnya bukan merupakan budaya Indonesia ataupun Asia , tetapi merupakan budaya bangsa Roma kuno yang akhirnya diadopsi oleh bangsa-bangsa lain termasuk bangsa Indonesia setelah melewati berbagai proses panjang dan akhirnya terbentuk menjadi budaya lokal. Dengan kata lain peringatan hari Valentine di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia menjelaskan bahwa Valentine merupakan hasil dari globalisasi budaya.  Sutan Takdir Alisjahbana dalam tulisanya yang berjudul suatu filosofi untuk masa depan menuju kebudayaan yang inklusif, menyatakan bahwa globalisasi mengakibatkan berbagai kebudayaan di dunia bertemu bukan saja di kota besar, tetapi di mana-mana dengan adanya radio, televisi, surat kabar, dan media massa. Akibatnya terjadi pertemuan dan percampuran kebudayaan yang lebih besar daripada yang pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.  Peluang Bisnis dan konsumerisme  Bagi para pebisnis bulan Februari merupakan bulan keberuntungan, karena beragam produk yang berhubungan dengan peringatan hari kasih sayang yang disebut dengan istilah Valentine’s day mengalami permintaan yang sangata besar.  Para pebisnis berusaha mengiklankan produk mereka di media cetak maupun elektronik agar produk mereka mendapat tanggapan dari para konsumen yang membudayakan hari valentine. Produk-produk tersebut seperti pakaian, alat-alat elektronik (gadget), makanan (kue, coklat), dll. Biasanya penawaran produk ini disertai dengan pemberian diskon yang besar sebagai daya tarik bagi konsumen sehingga penjualan mereka pun mengalami peningkatan yang tajam.  Secara ekonomi Kenyataan tersebut memberikan keuntungan kepada para pelaku bisnis tetapi di sisi lain masyarakat pun secara langsung sedang dibawa masuk ke dalam sebuah jerat budaya konsumerisme karena tergiur dengan berbagai iklan yang fantastik dan diskon besar dari produk-produk yang ditawarkan sekalipun apa yang ditawarkan tersebut tidak mereka perlukan tetapi karena daya tarik tersebut membuat masyarakat berusaha untuk mendapatkannya.  Sebagian slogan yang sering didengung-dengungkan saat memperingati Valentine’s day ialah "say it with flower", "say it with chocolate", semakin membuat hari Valentine berujung pada penciptaan budaya konsumerisme. Slogan ini seakan menjelaskan bahwa Valentine’s day akan semakin berarti apabila kita menyatakan kasih dan sayang kita kepada orang lain dengan bunga, coklat, atau benda-benda lainnya.  Valentine yang kita adopsi dari budaya asing melalui globalisasi terasa kurang pas jika dikembangbiakan di tanah air kita, sesungguhnya dengan melaksanakan itu semua secara tidak langsung kita telah terjangkit dengan budaya-budaya baru yang sesungguhnya bukan budaya dari bangsa kita, mungkin sebaiknya kita berbangga dengan budaya bangsa kita yang jauh sebelum bangsa eropa mengenal valentine dengan simbol kasih sayangnya kita telah cinta kedamaian, menjauhi hidup berpoya-poya yang kesemuanya diajarkan dalam adat budaya kita yang beragam dari Sabang sampai Marauke.***  Penulis adalah: Direktur Eksekutif Koalisi Transparansi Masyarakat Berpendidikan (KITAB).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar